HMI KITA KITA HMI
HMI KITA KITA HMI
Alhamdulillah
di ucapkan karna HMI Komisariat FIS UINSU telah menjadi panaitia pelaksana
Latihan Kader (LK) 1 HMI Cabang Medan, penantian panjang yang telah di upayakan
satu demi satu bisa hampir akan dilewati, bentuk keberhasilan untuk tingkat
sementara menuju komisariat penuh, syarat-syarat terus diupayakan untuk tujuan
bersama, berkat doa dan komitmen kawan-kawan kepengurus dan anggota
komisariat hari ini atas upayah dan
kerja ringannya, sebuah proses untuk mengukir sejarahnya masing-masing dan
tetap menanamkan nilai-nilai kebaikan, sesui dengan tujuan HMI itu sendiri,
yaitu mewujudkan insan paripurna (insan akademis, insan pencipta, insan
pengabdi, insan bernapaskan islam, dan insan bertanggung jawab).
Tidak terasa HMI sudah berusia 74 tahun
di hitung sejak 1947 hingga saat ini, dulu waktu milad HMI yang ke 22 di HMI
Cabang Yogyakarta di gedung sena sono dalam sambutanya Lafran Pane mengatakan:
apakah perlu HMI di bentuk, kalau hanya untuk mempertahan bangsa Indonesia
seharusnya sudah selesai dengan membentuk Corps Mahasiswa (CM), tetapi HMI
dibentuk sebagai organisasi pengkaderan. Karna kita tahu pengkaderan adalah
jantungnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), jika pengkaderan berhenti maka jantung itu
juga berhenti berdetak.
Dalam sambutan PJ Ketua Umum PB HMI
dalam acara Milad HMI yang ke 74 beliau mengatakan sudah panjang umur
pengabdian HMI lakukan dan beliau mengatakan lagi, yang menjadi kelemahan HMI
hari ini adalah terlalu politisasi di tubuh internal HMI, semua ingin mengambil
panggung, sebuah keritikan yang disampaikan PJ Ketua Umum PB HMI sungguh
menjadi perhatian khusu setiap kader HMI di manapun berada, miris rasanya
melihat hal itu, apalagi samapai nantinya pengkaderan menjadi ajang politisasi.
Ber HMI berteman lebih dari
bersaudara itu lah alasan mengapa penulis pribadi hari ini masih berada di HMI,
dan juga sebuah pengalaman yang tak mau di pisahkan dari HMI, dan sesuatu
pembelajaran yang tak akan didapatkan di luarnya. Kalau perkataan orang jawa
itu ada yang namanya menguwongke (memanusiakan) dan menguwangkan
(menguwangkan), artinya begini menguwongke (memanusiakan) berargumentasi tetapi
mengimplementasi ke pada kebenaran dan kebaikan sedangkan menguwangke
(menguwangkan) yaitu tetap berargumen tetapi argumenya hanya untuk kepentingannya,
jadi kita harus bisa membedakan mana argumen yang menguwongke dan mana argument
menguwangke.
Kamis
4 Maret 2021 Medan
Abd
Robi Wardana (MPKK HMI Persiapan FIS UINSU)

Komentar
Posting Komentar